Ayurveda, Apa Tuch?

Pernah dengar tentang Ayurveda? Mungkin pernah, mungkin belum. Ayurveda apa tuch? Makanan? Merk sepatukah? Atau merk obat? Oh…mungkin jamu.

Jika Anda keranjingan nonton acaranya Dr.Oz (bukan versi Indonesia) dan Oprah Winfrey, atau pernah baca buku-bukunya Deepak Chopra? Kalau pernah, mungkin Anda pernah mendengarnya.

Ayurveda bukanlah makanan, merk sepatu, merk obat atau jamu….eeiitts..tunggu dulu! Kalau disebut jamu…ya..tapi tidak. Karena Ayurveda adalah nenek moyangnya jamu.

Untuk mempersingkat semuanya, Ayurveda itu adalah saudaranya Yoga yang belum se”celeb” seperti Yoga. Mereka itu saudara yang tidak bisa dipisahkan. Namun ketika Yoga dijadikan kondang oleh Barat, dan seperti biasa, kita selalu mengikuti demam Barat, maka kitapun tahunya hanya Yoga. Si malang Ayurveda ditinggalkan. Padahal keberadaan Yoga pincang tanpa Ayurveda, begitu juga sebaliknya.

Jadi, apa sich Ayurveda itu? ……drum roll….jeng jeng!
Ya, saudara-saudara….perkenalkan bintang tamu kita hari ini…Ayurveda!

Ayurveda

“Hallo, nama saya Ayurveda. Nama saya berasal dari kata Sanskerta yang berarti Ayus = kehidupan, Veda = ilmu. So, aku adalah ilmu kehidupan :)”

(Maaf, saya terlalu luas berimajinasinya 😉 *sigh* )

Ya, jadi Ayurveda adalah ilmu kehidupan dimana Ayurveda mengantarkan kita untuk dapat hidup selaras dengan alam sehingga kita bisa panjang umur (longevity), awet muda, sehat dan bahagia.
#applause.com                    

Ayurveda adalah semacam manual handbook yang selama ini kita tidak pernah peroleh.

Saya belum pernah mendengarkan satu orangpun yang tidak ingin hidup sehat dan bahagia. Jika ada, pasti hidungnya bertambah panjang seperti pinokio! Ayurveda adalah semacam manual handbook yang selama ini kita tidak pernah peroleh. Kalau kita beli smartphone baru, kita pasti mendapatkan manual handbook. Beli laptop baru, a/c baru, printer baru…dapat juga. Lha, waktu kita lahir, kita tidak pernah diberikan,khan? Sehingga kita tidak pernah tahu secara persis apa yang harus kita lakukan untuk merawat tubuh, pikiran, jiwa ini seutuhnya. Sehingga selama ini kita mungkin memberikan “bensin” yang keliru untuk jenis tubuh/pikiran kita. Yang ibaratnya harus diberi Pertamax, malah diberi Solar. Jelas mesinnya bisa cepat rusak. Begitu pula menurut Ayurveda.

Nah, menurut Ayurveda yang sudah beredar sekitar 5000 tahun yang lalu (lha, segitu eksisnya tapi koq kita belum pernah kenal ya? #garuk-garukkepalaheran.com), setiap manusia atau individu adalah sangat unik. Dia dibagi menjadi 3 kategori yang disebut Dosha. Sebenarnya tidak ada satu kata dalam bahasa Inggris atau dalam bahasa Indonesia yang dapat menggantikan kata tersebut. Tapi untuk mempermudah pemahaman kita, Dosha bisa dikatakan sebagai tipe tubuh/pikiran (body/mind type) kita. Jadi kalau saya menyebut-nyebut kata “Dosha”…atau terutama “Dosha Anda”, bukan berarti saya menuding Anda karena telah berdosa….tetapi merujuk pada tipe tubuh/pikiran kita.

Ketiga tipe Dosha itu apa saja?

Vata: Angin
Pitta: Api
Kapha: Air

Kira-kira seperti apa ya menjelaskan ketiga Dosha ini? Karena saya seseorang yang cukup visual dan suka berimajinasi, mari kita simak cerita berikut ini…

Ada sebuah keluarga yang terdiri dari seorang Ibu bernama Pitta, seorang Ayah yang bernama Kapha dan seorang anak remaja laki-laki yang bernama Vata. Pada suatu hari Minggu yang cerah, keluarga ini akan menjamu sebuah teman lama dari. Bu Pitta dengan tubuhnya yang ramping dan agak berotot (karena suka main tenis) mempersiapkan segala sesuatunya untuk jamuan tersebut dan Pak Kapha yang berbadan besar dan agak gempal sudah janji untuk belanja keperluan-keperluan untuk jamuan tersebut.

Vata yang bertubuh kurus selama semalaman susah tidur karena dia terlalu excited dengan lagu hasil inspirasi yang dia dapatkan semalam. Dia langsung mengambil gitarnya dan mencoba memainkannya dengan penuh semangat namun gelisah disaat yang bersamaan. Apalagi ketika berkali-kali ada nada-nada yang dia salah mainkan. Diapun menyanyikan lagunya dengan suaranya yang agak serak-serak.

Mari kita tengok Pak Kapha dan Bu Pitta. Seperti biasa Pak Kapha bangunnya agak siang sekitar jam 10an jika hari Minggu lalu dengan santai dan perlahan menikmati sarapannya di kebunnya yang indah. Sementara Bu Pitta sudah memberikan instruksi kepada pembantunya dari A-Z. Dan Bu Pitta pun menghampiri Pak Kapha dengan catatan belanjaannya. Pak Kapha manggut-manggut dan mendengarkan dengan sabar semua pesanannya. Padahal Pak Kapha tahu dia tidak bisa ingat dengan mudah semua catatan belanjaannya yang disebutkan Bu Pitta. Tapi Pak Kapha tahu bahwa dia pasti akan mendapatkan catatannya dari Bu Pitta. Karena Bu Pitta tidak akan melepaskan siapapun pergi tanpa catatannya.

Selama Bu Pitta membacakan catatannya, Pak Kapha sedang memperhatikan kucingnya yang berusaha ingin menangkap burung gereja yang sedang asyik minum air di kolam ikan. Pak Kapha tersenyum-senyum memperhatikan tingkah laku si Kucing. Bu Pitta terus saja melanjutkan semua instruksi-instruksinya untuk Pak Kapha.

“Jelas, Pa?”, tanya Bu Pitta.
“Eeh..jelas Ma. Ya nanti Papa belikan semua itu. Mama tenang saja ya”, jawab Pak Kapha dengan suara baritonenya yang merdu setelah kembali fokus pada Bu Pitta.

Pak Kapha pergi ke kebunnya untuk melanjutkan menyaksikan adegan yang seru si Kucing. Beliau duduk di kursi sandaran favoritnya sambil meluruskan kakinya. Si Kucing terus berjuang untuk menangkap burung gereja yang terbang dan lompat dengan lincah menghindari si Kucing. Namun si Kucing pantang menyerah. Saking seriusnya si Kucing dia tidak lagi memperhatikan langkahnya lagi, maka iapun tercebur ke dalam kolam ikan! Pak Kapha tertawa terbahak-bahak membahana. Mendengar tawa Pak Kapha, Bu Pitta langsung menoleh.

“Papaaaa….bukannya sekarag langsung pergi ke swalayan…eh malah duduk-duduk di taman sambil tertawa. Sudah siang Paaaa…..”, Bu Pitta mulai tidak sabar dan ngomel.

Pak Kapha masih dengan tawanya beranjak berdiri dan beranjak ke mobilnya. Sementara Vata sedang asyiknya mendapatkan inspirasi sehingga otaknya terus berputar untuk mendapatkan nada-nada yang pas. Kakinya terus bergoyang-goyang. Dan setelah ia berhasil menemukan nada yang pas, dia sudah tidak sabar lagi untuk sharing kepada teman-teman di bandnya. Dia pun langsung bergegas dari kamarnya dan turun tangga. Namun setelah sampai di bawah, dia lupa bahwa notasi lagunya tertinggal di kamarnya. Dia pun bergegas lari ke atas.

“Maaaa…pinjam mobil. Vata mau ke rumah temen!”, dia langsung mengambil kunci mobil dan menyerobot Pak Kapha yang masih juga belum sampai ke mobilnya karena mengelus-elus si Kucing yang tercebur.

Braak! #bunyi mobil menabrak tong sampah
Brrrmmm…… #bunyi gas yang ditancap

“Vataaaaaaa…..mobilnya harus dipakai Papaaaaa!!!!” teriak Bu Pitta dengan suara yang melengking dan kesal serta frustrasi tak berdaya karena menyaksikan mobilnya yang melesat menjauh dari rumahnya.

Pak Kapha hanya melongo menyaksikan semua itu.

Yaaa….saudara-saudara….kira-kira seperti itulah gambaran tentang Vata/Pitta/Kapha atau disingkat dengan VPK pada diri setiap manusia. Untuk ingin tahu penjabarannya lebih luas tentang VPK dan Dosha Anda serta manual handbook spesifik untuk Anda lengkap dengan gerakan yoga dan lifestyle yang cocok untuk Anda, silakan ikuti program singkat saya yang bernama Ayur Self Healing. Just contact me :)

Leave a Reply

16 + eighteen =

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Linkedin